Monday, 7 May 2012

Peratu... Sebuah Omelan.


Guess what... tahun ini aku resmi jadi perawan tua. Soalnya, tahun ini aku genap 36 tahun, dan itu tentu saja membuatku tidak termasuk muda lagi. Buktinya, segmen pembaca Femina (majalah untuk wanita muda itu..) adalah 25 sampai 35 tahun! Nah, kan.. mungkin kalau Cosmopolitan masih lebih welcome, secara dia mentarget sampe umur 40 lebih. Tapi aku kurang welcome sama Cosmo, soalnya Cosmo bikin perasaanku gak karuan... terutama waktu liat sepatu-sepatu wegdes yang caaaantik itu... dan tas-tas lucu dan keren.. dan baju-baju itu... lipstick.. dan parfum.. huaaaaaaaaaaa...... dan terutama pinggang-pinggang sempurna tanpa gumpalan lemak sebesar lengan. Hiks. Para Peratu tidak selalu makhluk-makhluk berwajah masam dengan punggung tegak yang selalu bersikap sempurna dalam segala keadaan kali.. Itu cuma ada di Agatha Christie. Bahkan Agatha Christie pun punya Miss Maple, Peratu yang soo sweeet... sangat manis, dengan mata biru cantik yang innocent. Tapi kalau kita berniat jadi Peratu, sebaiknya kita jangan terlalu cantik. Suer. Dan lebih-lebih, jangan terlalu sukses dalam karir (atau ilmu).. Kalaupun terpaksa kita sukses, dan cantik, dan apapun yang kata orang hebat (kaya, misalnya.. atau pintar), sebaiknya sembunyikan sebaik mungkin. Misalnya kita bisa menyimpan baju kumal 3 atau 4 potong just in case.. Jangan lupa pasang tampang semiserable mungkin. Tau, gak, untuk kaum Peratu, cantik, sukses, cerdas, semua itu adalah dosa besar!! Kalau kamu cantik, dan kamu masih perawan (atau tidak, yang jelas kamu gak punya suami, itu berarti kamu Terlalu Pilih-Pilih. Itu dosa besar! Apalagi kalau ada tambahan dosa kedua, kamu cerdas, dan gak punya suami, itu berarti kamu tidak mau mengalah, sok tahu, suka merendahkan laki-laki dan terlalu pilih-pilih. See? Inti pelajaran yang bisa aku ambil sebagai Peratu yang sudah berpengalaman seumur hidupnya mempelajari kaum Peratu lain, adalah.. kalau gak ada laki-laki yang mau jadi suamimu, turunkanlah standarmu. Misalnya, kalau kamu berharap menikah dengan saling mencintai, saling menyayangi, menghormati dan saling mengerti, dan di umur 30 an kamu masih tetap tidak kawin… Giirrlss.. sadarlah! Wake up! Turunkan standarmu. Sadar dirilah.. kamu bukan pribadi yang layak diperlakukan seperti itu. Kamu gak seberharga itu. Turunkan standarmu.. asal ada pria yang mau menjadikanmu isteri, terima saja. Itu sudah pujian yang luar biasa tingginya, bahwa ada pria yang bersedia memerintahmu dan menguasai dirimu dan hidupmu, dan mendapatkan pelayanan dan pengabdianmu seumur hidupmu, atau sampai dia bosanlah. Kalau kamu sudah menurunkan standarmu masih juga belum ada pria yang bersedia menerima pengabdianmu, rendahkanlah lagi dirimu. Kalau perlu, berubahlah jadi orang lain! Yes, girls! Berubahlah jadi orang lain.. misalnya contohlah saudaramu atau temanmu yang sudah laku, lalu tirulah tingkah lakunya. Menit demi menit. kalau perlu di catat!! Kalau kamu semula adalah pribadi yang kritis, berani membela kebenaran, berani menyatakan prinsip dan pendapat, lupakan semua itu!! Itu kualitas buruk bagi seorang peratu yang sedang cari suami. Oke, kamu boleh gitu kalau kamu wanita yang punya suami, karena kenyataan bahwa ada seorang pria yang menginginkanmu melegitimate statusmu sebagai wanita normal, warga negara kelas lumayan.. Apalagi kalau kamu punya anak, atau apalagi sedang hamil! Itu adalah keadaan yang sempurna. Kamu boleh saja bilang bulan itu matahari dan tidak akan ada yang menyuruhmu berubah, atau menyuruhmu mengaca dan intropeksi diri. Tapi jangan coba-coba mengeluarkan pendapat yang serambutpun berbeda dari orang lain, kalau kamu perawan tua. Itu dosa besaaaaaaaar! Ingat! kamu BUKAN ibu. kamu gak tahu rasanya jadi isteri orang, gak tahu susah payahnya mengurus rumah tangga.. kamu gak tahu pahit getirnya hidup. So, kamu gak punya hak suara. Sebagai peratu, kamu harus bersedia berubah, jadi orang lain!! Sembunyikan dirimu sedalam mungkin! Itu gak penting, you know…
Kalau kamu sudah berubah jadi orang lain, bersikap seperti orang lain (yang sudah laku, tentunya!), berkata-kata seperti orang lain, berpenampilan seperti orang lain, dan masih juga gak ada siapapun, (baca: siapapun!!!) yang mau berkorban dengan jadi suamimu, well.. apa boleh buat.. selamat datang di dunia yang berbeda..
Jangan harap mendengar materi yang pas di acara wanita gereja.. mereka cuma punya dua agenda: materi buat para ibu, dan para calon ibu. Jangan harap dilibatkan dalam pembicaraan rumah tangga. Jangan harap dianggap serius dalam pembicaraan perkembangan anak, meskipun kamu seorang psikolog anak lulusan universtas ternama di dunia.  Oh ya, tapi ada beberapa hal yang bisa kita harapkan sebagai seorang peratu. Kita boleh, baca BOLEH, bersikap jahat dan masam pada siapapun.. terutama ibu-ibu muda yang tampak bahagia.. Mereka akan maklum. Oh ya, kita boleh tidak berbasa-basi pada siapapun. semua orang akan maklum. Kita juga boleh melihat tv sepanjang hari..atau tidur.. atau bermalas-malasan.. soalnya hal buruk yang akan kita terima cuma hal-hal yang sudah jadi makanan sehari-hari.. (yaitu dirasani dengan kata-kata: makanya, dia gak laku-laku.. mana ada orang laki yang suka dengan… dst..).

Oh ya, tentu saja masih ada alternative lain. Kalau kamu jagoan berakting, atau punya cita-cita dibidang itu, kamu bisa latihan. Caranya gampang.. pertama, kamu gak boleh kelihatan terlalu cantik, kedua kamu sama sekali gak boleh kelihatan berdandan.. ketiga, kamu harus kelihatan kerja sangat keras di rumah, misalnya ngepel lantai, masak, dsb… tiap hari kamu harus mondar-mandir dengan wajah sedih. Setiap ada kesempatan, sampaikan dengan panjang lebar betapa besarnya keinganmu untuk menikah dan membesarkan anak-anak..  Dengan cara itu mungkin kamu bisa survive di kalangan ibu-ibu. Dan bapak-bapak. Tapi mungkin juga tidak, karena mereka akan kuatir kamu merebut suaminya, meski hal ini sudah kita antisipasi dengan tampil seburuk mungkin.


 

Sunday, 19 February 2012

Dari Morning Glory

“You had a dream.  When you were 8, it was adorable.  When you were 18, it was inspiring.  At 28 it’s officially embarrassing and I just want you to stop before we get to heartbreaking.” – Morning Glory (Movie)
At 28 it’s officially embarrassing… lha kalau 38??! Mungkin officially pathetic. L  That’s me, I believe.
Tapi tidak buat Becky Fuller. Dia tidak menyerah. Embarrassing, mungkin. Tapi dia tidak menyerah hanya karena orang menganggapnya memalukan. Cita-citanya. Mimpinya. Apa yang dia percayai. Dia berjuang untuk itu. Di film ini, akhirnya dia mewujudkan apa yang dia cita-citakan. Jadi produser sebuah acara berita pagi yang sukses. Bukan Today show yang dia idamkan. Tapi lebih dari itu. Karena Daybreak bisa dibilang dia yang menciptakan.
Aku selalu suka film-film sederhana seperti Morning Glory, Music  and Lyric, Devil Wear s Prada.. apalagi ya? Pokoknya film-film tentang orang yang punya mimpi, berjuang mewujudkannya. Kadang mereka meraihnya. Kadang mereka memilih untuk melepasnya. Poinnya adalah, jika kau punya mimpi, perjuangkan. Perjuangkan hingga titik darah penghabisan. Atau jika tidak, perjuangkan sampai kau yakin itu bukan sesuatu yang kau inginkan. Tau, gak, bagian paling menyenangkan dari mimpi adalah bahwa kita tidak pernah tahu apakah hal itu mungkin atau tidak mungkin terjadi. Jadi kita bisa selalu berharap. Dan mencoba.
Ada hal lain yang aku suka dari jalan ceritanya film Morning Glory. Tentang Mike. Reporter ternama kelas dunia. Peraih semua penghargaan broadcasting yang pernah ada. Dan dia terpuruk gara-gara dipecat oleh acara berita bergengsi. Well, karena itu, dia give up segalanya. Keluarganya. Aku bisa mengerti itu. You know what.. ketika kau kehilangan sesuatu yang kau anggap ‘who you are’, kau mungkin akan merasa ‘habis’ dan tidak punya sisa energy untuk menghadapi orang lain. Atau dirimu sendiri. Buat Mike, keberadaan dirinya sebagai pembaca berita kelas dunia itu menciptakan ‘identitas dirinya’. Itulah dia. Dia bersembunyi dari dunia dalam keangkuhannya.  
Becky yang ceria sanggup membuatnya bangkit. You know what.. kalau di depanmu ada tembok, kau tidak harus menghancurkannya. Kau bisa mengitarinya. Atau, membuat pintu. That’s it.

soto panas untuk jiwaku.. (chicken soup for the soul... my version!)

waktu nulis ini aku baru selesai makan soto panas.. Soto ayam panas lezat.. dengan kuah harum, banyak koya gurih, sambel pedes dan jeruk nipis. Segaaar.. terutama karena lagi flu. Pikir-pikir, soto ayam bahasa inggrisnya kan chicken soup. Pantes lah. Kalau di sono, orang makan chicken soup kalau lagi flu (??).. kalau disini, soto ayam yang panas dengan banyak sambel.. atau bakso panas.
Apapun jenis makanannya, cerita-cerita kecil selalu menyenangkan. Membuat tersenyum. Atau nangis. Yang jelas aku suka.
Aku punya banyak cerita yang kalau ditulis mungkin bisa jadi buku best seller kayak chicken soup for the soul. Mungkin itu salah satu keuntungannya jadi anak kecil yang bandel. Sejak kecil sering disebeli orang. Jadi kebaikan orang lain juga kelihatan nyata banget.. sama seperti melihat bintang di langit gelap..

Salah satu moment yang kuingat dalam hidupku adalah suatu saat di sore yang hujan... Waktu itu aku berdiri dengan sedih.. hati hancur.. patah hati... aku berdiri memandangi tetes-tetes air yang makin deras. Angin berhembus dingin. Hatiku hampa. Tidak tahu harus bagaimana. Aku mencintai seseorang yang memilih orang lain. Dan bodohnya, aku mulai capek menyembunyikan perasaan itu darinya. Bagaimana kalau dia tahu?! Well, sekarang kalau aku pikir dengan pikiran waras, tidak mungkin dia tidak tahu. So obvious sih! Tapi apa yang dia lakukan? Apa coba? Dia memegang bahuku dari belakang, dan berkata dengan sungguh-sungguh, "maafkan aku, ya.."
Haa!! Is he for real?? Emang dia salah apa sama aku? Kalau dipikir, yang salah itu aku. Sudah tahu orang suka sama orang lain (menurut rumor sih!), dekat sama orang lain, malah aku sukai. Lagian, siapa sih aku ini? Cuma salah satu mahasiswa gak terkenal dengan tampang gak karuan, gendut pula (no offense, Tis), gadis desa yang rada-rada gak behave kelakuannya. Sebenernya aku malah kuatir kalau dia bakal merasa terhina kalau ditaksir cewek (waktu itu kan masih 'cewek'!) model aku ini. Tapi dia malah minta maaf sama aku. Jelas aku kaget. Aku langsung tanya, "Kenapa? Ada apa?" (ini kaget sungguhan, soalnya kan seharusnya dia gak tahu hancurnya hatiku? Emang aku nyanyi keras-keras? Wong waktu itu lagu Olga belum terbit).
Well, dia gak jawab. Cuma memandangku beberapa saat. Lalu menggeleng sekilas,
"Aku minta maaf.." ekspresinya seolah berkata : kamu tahu kenapa.
Aku gak berani membalas tatapannya. Sebenernya aku selalu merasa hina di depannya dan di depan semua orang, karena berani-berani menyukainya. Tapi sore itu, aku benar-benar merasa seperti manusia yang setara dan sejajar dengannya! Sungguh, pikir-pikir mungkin permintaan maafnya yang sederhana itu salah satu faktor yang membuat aku sanggup melewati patah hatiku (atau lebih tepat cintaku yang tak terbalas!) dengan relatif mudah! Aku sedih, iya. Tapi sama sekali tidak ada sakit hati atau apa. Aku cuma move on. Dengan cepat dan mudah.

Di kemudian hari, kalau aku mengingat kejadian itu, aku kadang bisa menjelaskan kenapa kejadian kecil itu jadi berarti untukku. Dalam hidup ini, kita kadang-kadang harus sakit hati. Atau kadang juga terpaksa bikin orang lain sakit hati.  Atau marah. Atau sedih. Atau kecewa. Kadang gak sengaja.. kadang karena itu konsekuensi dari keputusan yang harus kita ambil. Tapi, meski begitu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membuatnya lebih mudah dijalani. Meminta maaf dan memberi maaf adalah salah satu (atau dua) diantaranya.

Meski kelihatannya sederhana, dalam permintaan maaf itu ada banyak makna.. untuk aku, permintaan maaf yang sungguh-sungguh itu, membuat aku merasa dihargai. Bahwa apa yang aku rasakan itu diakui sebagai 'sesuatu yang berarti'. Menyampaikan pesan : 'aku perduli padamu, aku tidak ingin membuatmu sedih'.
Buatku, itu sudah cukup melegakan...