Sunday, 19 February 2012

Dari Morning Glory

“You had a dream.  When you were 8, it was adorable.  When you were 18, it was inspiring.  At 28 it’s officially embarrassing and I just want you to stop before we get to heartbreaking.” – Morning Glory (Movie)
At 28 it’s officially embarrassing… lha kalau 38??! Mungkin officially pathetic. L  That’s me, I believe.
Tapi tidak buat Becky Fuller. Dia tidak menyerah. Embarrassing, mungkin. Tapi dia tidak menyerah hanya karena orang menganggapnya memalukan. Cita-citanya. Mimpinya. Apa yang dia percayai. Dia berjuang untuk itu. Di film ini, akhirnya dia mewujudkan apa yang dia cita-citakan. Jadi produser sebuah acara berita pagi yang sukses. Bukan Today show yang dia idamkan. Tapi lebih dari itu. Karena Daybreak bisa dibilang dia yang menciptakan.
Aku selalu suka film-film sederhana seperti Morning Glory, Music  and Lyric, Devil Wear s Prada.. apalagi ya? Pokoknya film-film tentang orang yang punya mimpi, berjuang mewujudkannya. Kadang mereka meraihnya. Kadang mereka memilih untuk melepasnya. Poinnya adalah, jika kau punya mimpi, perjuangkan. Perjuangkan hingga titik darah penghabisan. Atau jika tidak, perjuangkan sampai kau yakin itu bukan sesuatu yang kau inginkan. Tau, gak, bagian paling menyenangkan dari mimpi adalah bahwa kita tidak pernah tahu apakah hal itu mungkin atau tidak mungkin terjadi. Jadi kita bisa selalu berharap. Dan mencoba.
Ada hal lain yang aku suka dari jalan ceritanya film Morning Glory. Tentang Mike. Reporter ternama kelas dunia. Peraih semua penghargaan broadcasting yang pernah ada. Dan dia terpuruk gara-gara dipecat oleh acara berita bergengsi. Well, karena itu, dia give up segalanya. Keluarganya. Aku bisa mengerti itu. You know what.. ketika kau kehilangan sesuatu yang kau anggap ‘who you are’, kau mungkin akan merasa ‘habis’ dan tidak punya sisa energy untuk menghadapi orang lain. Atau dirimu sendiri. Buat Mike, keberadaan dirinya sebagai pembaca berita kelas dunia itu menciptakan ‘identitas dirinya’. Itulah dia. Dia bersembunyi dari dunia dalam keangkuhannya.  
Becky yang ceria sanggup membuatnya bangkit. You know what.. kalau di depanmu ada tembok, kau tidak harus menghancurkannya. Kau bisa mengitarinya. Atau, membuat pintu. That’s it.

soto panas untuk jiwaku.. (chicken soup for the soul... my version!)

waktu nulis ini aku baru selesai makan soto panas.. Soto ayam panas lezat.. dengan kuah harum, banyak koya gurih, sambel pedes dan jeruk nipis. Segaaar.. terutama karena lagi flu. Pikir-pikir, soto ayam bahasa inggrisnya kan chicken soup. Pantes lah. Kalau di sono, orang makan chicken soup kalau lagi flu (??).. kalau disini, soto ayam yang panas dengan banyak sambel.. atau bakso panas.
Apapun jenis makanannya, cerita-cerita kecil selalu menyenangkan. Membuat tersenyum. Atau nangis. Yang jelas aku suka.
Aku punya banyak cerita yang kalau ditulis mungkin bisa jadi buku best seller kayak chicken soup for the soul. Mungkin itu salah satu keuntungannya jadi anak kecil yang bandel. Sejak kecil sering disebeli orang. Jadi kebaikan orang lain juga kelihatan nyata banget.. sama seperti melihat bintang di langit gelap..

Salah satu moment yang kuingat dalam hidupku adalah suatu saat di sore yang hujan... Waktu itu aku berdiri dengan sedih.. hati hancur.. patah hati... aku berdiri memandangi tetes-tetes air yang makin deras. Angin berhembus dingin. Hatiku hampa. Tidak tahu harus bagaimana. Aku mencintai seseorang yang memilih orang lain. Dan bodohnya, aku mulai capek menyembunyikan perasaan itu darinya. Bagaimana kalau dia tahu?! Well, sekarang kalau aku pikir dengan pikiran waras, tidak mungkin dia tidak tahu. So obvious sih! Tapi apa yang dia lakukan? Apa coba? Dia memegang bahuku dari belakang, dan berkata dengan sungguh-sungguh, "maafkan aku, ya.."
Haa!! Is he for real?? Emang dia salah apa sama aku? Kalau dipikir, yang salah itu aku. Sudah tahu orang suka sama orang lain (menurut rumor sih!), dekat sama orang lain, malah aku sukai. Lagian, siapa sih aku ini? Cuma salah satu mahasiswa gak terkenal dengan tampang gak karuan, gendut pula (no offense, Tis), gadis desa yang rada-rada gak behave kelakuannya. Sebenernya aku malah kuatir kalau dia bakal merasa terhina kalau ditaksir cewek (waktu itu kan masih 'cewek'!) model aku ini. Tapi dia malah minta maaf sama aku. Jelas aku kaget. Aku langsung tanya, "Kenapa? Ada apa?" (ini kaget sungguhan, soalnya kan seharusnya dia gak tahu hancurnya hatiku? Emang aku nyanyi keras-keras? Wong waktu itu lagu Olga belum terbit).
Well, dia gak jawab. Cuma memandangku beberapa saat. Lalu menggeleng sekilas,
"Aku minta maaf.." ekspresinya seolah berkata : kamu tahu kenapa.
Aku gak berani membalas tatapannya. Sebenernya aku selalu merasa hina di depannya dan di depan semua orang, karena berani-berani menyukainya. Tapi sore itu, aku benar-benar merasa seperti manusia yang setara dan sejajar dengannya! Sungguh, pikir-pikir mungkin permintaan maafnya yang sederhana itu salah satu faktor yang membuat aku sanggup melewati patah hatiku (atau lebih tepat cintaku yang tak terbalas!) dengan relatif mudah! Aku sedih, iya. Tapi sama sekali tidak ada sakit hati atau apa. Aku cuma move on. Dengan cepat dan mudah.

Di kemudian hari, kalau aku mengingat kejadian itu, aku kadang bisa menjelaskan kenapa kejadian kecil itu jadi berarti untukku. Dalam hidup ini, kita kadang-kadang harus sakit hati. Atau kadang juga terpaksa bikin orang lain sakit hati.  Atau marah. Atau sedih. Atau kecewa. Kadang gak sengaja.. kadang karena itu konsekuensi dari keputusan yang harus kita ambil. Tapi, meski begitu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membuatnya lebih mudah dijalani. Meminta maaf dan memberi maaf adalah salah satu (atau dua) diantaranya.

Meski kelihatannya sederhana, dalam permintaan maaf itu ada banyak makna.. untuk aku, permintaan maaf yang sungguh-sungguh itu, membuat aku merasa dihargai. Bahwa apa yang aku rasakan itu diakui sebagai 'sesuatu yang berarti'. Menyampaikan pesan : 'aku perduli padamu, aku tidak ingin membuatmu sedih'.
Buatku, itu sudah cukup melegakan...